Kaltim Live! Balikpapan – Partisipasi masyarakat dalam pasar modal di Kalimantan Timur terus menunjukkan dominasi kuat, terutama dari Balikpapan dan Samarinda yang menguasai hampir 70% total investor regional. Sementara itu, Kalimantan Utara masih tertinggal jauh meski berbagai program edukasi terus digencarkan Bursa Efek Indonesia (BEI) sepanjang 2025.
Menurut data BEI, Single Investor Identification (SID) yang dihimpun, per Oktober 2025, terdapat disparitas signifikan di mana Kalimantan Timur berhasil mengumpulkan 150.532 investor saham dengan total 311.459 SID pasar modal. Sementara Kalimantan Utara hanya tercatat 18.071 investor saham dan 41.835 SID pasar modal atau selisih hampir 8 kali lipat. Kepala Bursa Efek Indonesia (BEI) Kantor Perwakilan Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara Ferdinan Sihombing menyatakan pihaknya telah melaksanakan 945 kegiatan edukasi sepanjang 2025.
Ia menyampaikan, tiga kota di Kalimantan Timur menyumbang hampir 70% total investor pasar modal di wilayah Kaltim–Kaltara. Dalam penjelasannya, BEI menegaskan bahwa Balikpapan, Samarinda, dan Kutai Kartanegara menjadi pusat konsentrasi aktivitas investasi. “Balikpapan dan Samarinda memang menjadi motor utama pertumbuhan investor di Kaltim,” ujarnya belum lama ini.
“Melalui berbagai inisiatif sepanjang tahun, kami terus berupaya memperluas jangkauan edukasi dan meningkatkan jumlah investor, khususnya di wilayah Kaltim dan Kaltara,” ujar Ferdinan.
Sementara 12 kabupaten/kota lainnya, termasuk Bontang, Penajam Paser Utara, Paser, Kutai Timur, Berau, Mahakam Ulu, serta wilayah Kaltara seperti Tarakan, Nunukan, Bulungan, Malinau, dan Tana Tidung, hanya menyumbang porsi kecil dari total keseluruhan. Kondisi ini menegaskan tantangan penetrasi literasi finansial di kawasan Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T).
Hingga akhir 2025, BEI telah menyelenggarakan 945 kegiatan edukasi berupa seminar, kuliah umum, pelatihan, hingga sosialisasi hybrid.
Beberapa program edukasi yang mencuri perhatian antara lain, Mahakam Ulu, Edukasi untuk pelajar mendapat respons positif, dengan banyak peserta mengajukan pertanyaan terkait mekanisme investasi legal. Tana Tidung, pelatihan bagi guru mengadopsi strategi cascading effect, menjadikan tenaga pendidik sebagai agen literasi keuangan di sekolah.
Selain itu, BEI juga memperkuat kolaborasi antarinstansi. Pada 24 Oktober 2025, bertepatan dengan Bulan Inklusi Keuangan (BIK), BEI menggelar audiensi dengan Kepala Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN) Basuki Hadimuljono. Kegiatan edukasi untuk 200 pegawai OIKN menunjukkan hasil positif—mayoritas peserta ternyata sudah menjadi investor aktif meski dinilai masih perlu pendalaman materi.
Ferdinan menegaskan komitmen BEI untuk memperluas basis investor di seluruh wilayah Kaltim–Kaltara. Percepatan digitalisasi, peningkatan kolaborasi, dan penetrasi ke daerah 3T disebut menjadi fokus utama BEI dalam beberapa tahun mendatang.
“Perbedaan jumlah investor yang besar ini menunjukkan masih luasnya ruang pengembangan. Kami akan terus hadir, termasuk di wilayah-wilayah yang selama ini sulit dijangkau,” tutupnya.(Kaltim Live)