Kaltim Live! – DI suatu subuh, pukul empat, saya melihat seseorang berlari. Di saat yang lain masih lelap tertidur. Orang itu, dalam gelap, terus menggerakkan kakinya. Berpeluh keringat.
Tentu saya tak tahu alasan dia berlari sepagi itu. Tak kenal juga dengan dia.
Pasti, bagi sebagian orang pasti berpendapat, untuk apa lari subuh-subuh? Lebih baik tidur. Istirahat.
Menurut saya, baik orang yang lari itu, atau orang lain yang berpendapat lebih baik tidur, keduanya sama-sama benar. Tidak salah.
Manusia memang butuh tidur dan beristirahat. Namun, ada juga yang terjaga di sepertiga malam, untuk beribadah. Di sisi paling ekstrem, ada yang memilih berlari di saat dunia di sekitarnya masih gelap dan sepi.
Lari menjadi fenomena olahraga yang belakangan ini, banyak digandrungi masyarakat. Dari tua, sampai anak-anak ramai yang berlari. Mulai dari ibu-ibu dengan dua orang anak, sampai dua sejoli yang dibutakan asmara juga ikut-ikutan berlari.
Lagi-lagi, semua berlari dengan tujuan dan alasannya masing-masing. Ada yang ingin menguruskan badan. Ada yang hendak bermesraan. Ada juga yang mencari jejaring pertemanan lewat klub-klub lari yang menjamur di kota-kota besar.
Semua alasan itu benar. Tidak ada yang salah. Bahkan, jika Anda berlari karena ikut-ikutan, atau takut dibilang tidak mengikuti tren sekalipun, tak jadi masalah. Berlari lah, meskipun Anda FOMO (Fear of Missing Out).
Seperti kata Ketua Asosiasi Lari Trail Indonesia (ALTI) Balikpapan, Berti Bole. “Lari menjadi fenomena gaya hidup yang patut kita syukuri.”
Ya, mensyukuri gaya hidup yang baik, menjadi sebuah kebiasaan di masyarakat, yang rasanya 10 tahun lalu, jauh dari bayangan kita bersama. Kini, setiap pagi di akhir pekan, kita bahkan sering melihat orang berlari.
Ada yang berlari puluhan kilometer sendiri. Ada yang berlari 5 kilometer beramai-ramai. Ada yang sekadar berlari-lari kecil, bersama keluarga kecilnya juga. Ada juga yang berlari, karena sehabisnya bisa memakan nasi kuning terenak, bersama sanak keluarga.
Lagi-lagi, setiap individu punya alasan dan caranya sendiri untuk berlari.
Lari kini menjadi difusi budaya yang juga diakibatkan oleh perkembangan teknologi. Yang mulai menyebar di era media sosial, ditularkan oleh influencer dan juga artis-artis nasional.
Tapi budaya ini, sekali lagi, perlu kita rayakan. Bukan malah mengolok-olok atau menjauhi orang, yang baru kemarin berlari.
Menurut saya, setiap orang yang terbangun dari tempat tidurnya di pagi hari, untuk menggerakkan badannya, dan mencari keringat dengan cara jogging atau bahkan latihan interval, perlu mendapat apresiasi. Baik pelari dengan pace setara atlet profesional, atau yang baru pace ‘keong’. Semua, berhak diberi medali.
Karena, mereka yang sudah memulai langkahnya keluar rumah, untuk berlari. Selamat! Anda sudah menang.
Menang dari rasa malas. Menang dari kesulitan masalah kesehatan, di hari tua. Menang dari pola pikir kolot, bahwa lari hanya melelahkan diri sendiri dan tidak memberikan hasil.
Jadi, bagi yang mau mulai berlari dan takut dibilang FOMO. Tidak apa-apa. Setidaknya Anda takut ketinggalan, menjalankan suatu aktivitas yang baik, bagi diri Anda sendiri.
Karena pada dasarnya, tubuh manusia butuh bergerak. Tidak bisa hanya sekadar seharian di atas kasur. Ini rahasia awet sehat, dari nenek moyang kita zaman dulu.
Menurut penelitian dan pakar kesehatan, berlari bahkan mampu menguatkan kinerja jantung dan paru-paru. Serta meningkatkan sistem metabolisme tubuh secara keseluruhan.
Juga menjadi cara paling mudah untuk membakar kalori, dan menjagat berat badan. Makanya, banyak kaum hawa yang belakangan ini, memlilih lari untuk menjadi jalan keluar menurunkan berat badannya.
Lebih dari itu, bahkan lari juga meningkatkan kesehatan mental, dikarenakan hormon “bahagia” endorfin dilepaskan di saat tubuh berkeringat. Sehingga mampu mengurangi stres, depresi dan kecemasan. Alasan inilah, yang membuat lari kini menjadi olahraga paling digandrungi generasi Milenial dan Gen Z.
Bahkan, menurut survei yang dibuat oleh McKinsey (2025), sebanyak 36% generasi muda di Amerika Serikat, menghabiskan 41% pengeluaran tahunannya untuk kesehatan. Laporan tersebut menjelaskan, generasi Milenial dan Gen Z lebih muda mengalami depresi dan persoalan kesehatan mental dibandingkan generasi sebelumnya. Sehingga melihat olahraga sebagai kebutuhan dasar.
Artikel lain yang dirilis The Guardian (Mei 2025) menemukan di Inggris banyak Gen Z memilih gym sebagai tempat sosial yang positif. Serta membuat kualitas tidur lebih baik, dan hubungan sosial yang terbentuk lewat aktivitas bersama.
Muscle & Brawn melaporkan 77% milenial lebih suka latihan berkelompok daripada sendirian.
Bank of America melaporkan dari 2025 bahwa saat ekonomi lesu, belanja masyarakat terhadap kebutuhan kesehatan tetap naik di atas 7%. Padahal, di tengah kondisi ekonomi di Negeri Paman Sam saat ini, sedang dalam kondisi stagnan dan cenderung lesu. Hal ini menunjukkan, olahraga menjadi upaya untuk tetap hidup sehat, dan penyembuhan diri terhadap rasa stres dari kondisi ekonomi yang masih buruk.
Pada dasarnya, bagi generasi muda kini melihat olahraga bukan sekadar aktivitas fisik, tetapi merupakan investasi holistik bagi tubuh dan jiwa. Mereka terdorong oleh kebutuhan mental, jejaring sosial, pengaruh media sosial, dan ketahanan terhadap stres ekonomi. Alhasil, baik waktu maupun uang dihabiskan untuk aktivitas kebugaran.
Jadi, silakan belanja kebutuhan gear untuk Anda berlari tidak masalah. Selama masih dalam tahap wajar, dan tidak mengorbankan kebutuhan utama Anda.
Juga menggunakan hal-hal yang tidak baik, seperti pinjaman daring, sehingga Anda terjebak dalam utang-piutang. Larilah dengan gear terbaik, toh tidak ada juga yang menghakimi Anda berlari dari pakaian atau sepatu yang digunakan.
Ikutilah semua perlombaan lari yang hype di manapun Anda berada. Tapi ingat batasan, jangan memaksa ketika fisik tidak dalam kondisi prima.
Unggahlah hasil lari Anda di media sosial pribadi Anda. Berbagilah akun Strava Anda dengan teman-teman komunitas lokal.
Berlarilah, karena kebutuhan. Mulailah berlari saat ini. Karena, itu artinya Anda sudah menang melawan diri sendiri.
Berlarilah untuk dirayakan!
Yuk kita lari bareng! (Kaltim Live)
Oleh: Rio Adam (Pimred Kaltim Live)