Kaltim Live! Balikpapan – Apa yang kini terlihat sebagai kawasan hijau, rapi, dan penuh aktivitas pemberdayaan warga, dulunya hanyalah “TPS bayangan” yang dipenuhi sampah liar.
Perubahan besar itu bermula pada 2007, ketika Abdul Rahman, membersihkan sendiri lahan kumuh tersebut, lalu menanaminya dengan berbagai jenis tanaman. Dari langkah kecil itu, lahirlah gerakan lingkungan yang kini mengharumkan nama Kelurahan Sepinggan di tingkat nasional.
Pada 2010, kegelisahan terhadap masalah sampah membawa sang penggerak lingkungan ini bergabung dengan bank sampah Wijaya Kusuma di Gunung Bahagia. Dua tahun kemudian, pada 2012, ia bersama warga membentuk bank sampah pertama di kawasan Sepinggan. Gerakan kecil itu terus tumbuh menjadi gerakan kolektif.
“Nilai ekonomi sampah dulu sangat kecil, bahkan kantong kresek tidak dihargai. Tapi sejak awal, tujuan kami bukan rupiah. Kami hanya ingin lingkungan bersih dan warga berhenti membakar sampah,” kenang Abdul Rahman yang kini menjadi Koordinator Kampung Berseri Astra (KBA) Sepinggan Abdul Rahman.
Dedikasi tersebut akhirnya mendapat dukungan penuh warga. Kebiasaan buruk membuang sampah sembarangan perlahan hilang, digantikan kesadaran baru untuk memilah, mengumpulkan, dan mengelola sampah. Pada 2016, ia memutuskan berhenti dari pekerjaan lamanya dan fokus sepenuhnya mengelola bank sampah.
Perubahan nyata yang terjadi di wilayah ini menarik perhatian pemerintah. Mereka kemudian diundang mengikuti Program Kampung Iklim (Proklim) yang melibatkan seluruh kawasan Kelurahan Sepinggan—sebanyak 70 RT.
Ia ditunjuk sebagai koordinator lapangan: mengumpulkan ketua RT, memberikan edukasi, menyosialisasikan program, dan memastikan gerakan lingkungan berjalan serempak. Kantor kelurahan menjadi pusat pertemuan, difasilitasi langsung oleh Lurah.
Motivasi warga sederhana namun kuat: mereka ingin lingkungan yang bersih, nyaman, dan bebas dari sampah.
Kerja keras selama bertahun-tahun akhirnya terbayar. Pada 2021, kawasan ini resmi menyabet Tropi Utama Proklim, penghargaan tertinggi dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.
Masih di tahun yang sama, perjuangan mereka berlanjut saat mendaftar Program Kampung Berseri Astra (KBA). Setelah dua kali gagal, mereka akhirnya lolos pada pendaftaran ketiga di 2021. Program ini memberikan berbagai manfaat berbasis empat pilar, yang kemudian disalurkan tepat sasaran ke warga.
“Kami hanya menjadi jembatan. Tugas kami memastikan bantuan tepat sasaran, diterima oleh warga yang benar-benar membutuhkan,” ujarnya.
Bank sampah yang mereka kelola kini fokus pada sampah anorganik bernilai ekonomis seperti botol, buku, hingga 32 jenis plastik—mulai dari tali rafia, karung, hingga kantong kresek. Sampah yang terkumpul tidak diekspor, melainkan disalurkan ke pengepul lokal karena keterbatasan ruang penyimpanan.
Pilihan ini sejalan dengan misi awal: mengurangi sampah plastik yang mencemari lingkungan, bukan sekadar mencari keuntungan finansial.
Perjalanan panjang ini membuktikan bahwa perubahan lingkungan dapat dimulai dari langkah kecil. Dari keberanian satu orang membersihkan TPS bayangan, kini Sepinggan tumbuh menjadi kawasan yang menjadi inspirasi—berhasil menggerakkan warga, menyabet Tropi Utama Proklim, dan menjadi bagian dari Kampung Berseri Astra.(Kaltim Live)