Ketahanan Energi Diperkuat: Kilang Balikpapan Senilai Rp126 T Siap Beroperasi, Target Pangkas Impor BBM 15%

Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung (kiri) meninjau tangki penyimpanan minyak raksasa berkapasitas 2 juta kiloliter di area proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan yang kini memasuki tahap akhir penyelesaian, Rabu (19/11/2025).

Kaltim Live! Balikpapan – Indonesia selangkah lebih dekat menuju swasembada energi. Proyek ambisius Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan, salah satu investasi BUMN terbesar yang menelan dana $7,4 miliar (setara sekitar Rp126 triliun), dilaporkan telah rampung dan siap untuk diresmikan pada pertengahan Desember 2025.

Kepastian ini didapat setelah Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Yuliot Tanjung, melakukan peninjauan langsung ke area proyek pada Rabu (19/11/2025). Kunjungan tersebut menegaskan bahwa seluruh fasilitas utama dan pendukung telah memasuki tahap akhir penyelesaian, dengan progres pekerjaan tersisa hanya 1-2% berupa penyempurnaan teknis.

“Dengan selesainya fasilitas RDMP Balikpapan, kita memasuki tahap commissioning. Seluruh persiapan ini ditujukan agar saat peresmian nanti, semuanya sudah bekerja optimal,” ujar Wamen ESDM Yuliot Tanjung.

RDMP Balikpapan bukan sekadar proyek pembangunan, melainkan tulang punggung investasi strategis nasional yang bertujuan utama memperkuat ketahanan energi dan menekan ketergantungan impor bahan bakar.

Salah satu fokus utama peninjauan adalah tangki penyimpanan minyak raksasa yang diklaim sebagai yang terbesar di Indonesia dengan kapasitas 2 juta kiloliter. Keberadaan oil storage masif ini dinilai sangat krusial.

“Seluruh minyak domestik akan kita olah di dalam negeri terlebih dahulu. Jika ada kekurangan, barulah kita impor. Karena itu keberadaan oil storage raksasa ini menjadi sangat penting,” tegas Yuliot, menggarisbawahi komitmen pemerintah memprioritaskan pasokan minyak dari sumber domestik.

Secara ekonomi, dampak beroperasinya kilang ini sangat signifikan. Mulai dari peningkatan produksi. Proyek ini diproyeksikan dapat menghasilkan 360 ribu barel per hari, berkontribusi sekitar 22–25 persen dari total kebutuhan nasional. Kemudian, memangkas Impor. Dengan adanya peningkatan kapasitas hingga 100 ribu barel per hari, pemerintah meyakini dapat mengurangi impor BBM sebesar 10–15 persen, yang secara langsung akan berdampak positif pada neraca pembayaran negara.

Selain peningkatan kapasitas, RDMP Balikpapan juga mengadopsi konsep kilang hijau (green refinery). Konsep ini memungkinkan pemanfaatan residu bernilai rendah menjadi produk petrokimia bernilai tinggi, seperti propilen dan etilen.

Langkah ini merupakan terobosan ganda. Pertama, meningkatkan nilai tambah produk olahan. Kedua, mengurangi ketergantungan impor terhadap produk petrokimia yang selama ini masih menjadi beban.

Meskipun jadwal peresmian, yang direncanakan langsung oleh Presiden, masih menunggu penetapan resmi dari protokol istana, pemerintah optimis momen bersejarah tersebut akan berlangsung sesuai target: pertengahan Desember 2025.

“Kita sudah maju sejauh ini, jadi tidak ada alasan untuk mundur. Harapan kita tetap sesuai jadwal,” tutup Yuliot.(KaltimLive)

TAG:

TRENDING

Pilihan Editor

Berita Lainnya