Perkuat Posyandu, TP-PKK Balikpapan Gandeng OPD Tekan Stunting

Komitmen kolaborasi lintas sektor untuk menekan angka stunting dan meningkatkan kualitas keluarga di Balikpapan periode 2025–2030.

Kaltim Live! Balikpapan – Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK) Kota Balikpapan menegaskan komitmennya memperkuat peran Posyandu pada periode 2025–2030 melalui kolaborasi lintas Organisasi Perangkat Daerah (OPD). Strategi ini ditempuh untuk menyiasati keterbatasan anggaran sekaligus memastikan program nasional benar-benar berdampak hingga tingkat keluarga.

Wali Kota Balikpapan Rahmad Mas’ud menegaskan, TP-PKK dan Posyandu tidak boleh sekadar menjalankan agenda seremonial. Keduanya dituntut hadir melalui kerja nyata yang manfaatnya langsung dirasakan masyarakat, terutama ibu dan anak.

“TP-PKK dan Posyandu harus menjadi garda terdepan pembangunan keluarga. Bukan sekadar kegiatan formal, tapi kerja lapangan yang berdampak langsung,” ujarnya, Rabu (14/1).

Ia juga mengapresiasi soliditas pengurus PKK, khususnya keterlibatan generasi muda yang dinilai memiliki energi dan kreativitas besar untuk menggerakkan program pemberdayaan keluarga di tengah dinamika perkotaan.

Ketua TP-PKK Kota Balikpapan sekaligus Pembina Posyandu, Nurlena Mas’ud, menjelaskan bahwa keanggotaan PKK kini melibatkan langsung OPD terkait agar program berjalan terpadu dan saling menguatkan.

“Posyandu itu menyentuh enam sektor penting, mulai pendidikan, pekerjaan umum, sosial, tata ruang, lingkungan hidup, hingga kesehatan. Semua kami libatkan agar tidak berjalan sendiri-sendiri,” ujarnya.

Melalui pendekatan lintas sektor tersebut, setiap OPD dapat menyelaraskan program dan anggarannya dengan kegiatan Posyandu. Dengan demikian, keterbatasan dana PKK tidak lagi menjadi penghambat utama pelayanan kepada masyarakat.

Penanganan stunting tetap menjadi prioritas. Nurlena menyebutkan, angka stunting di Balikpapan terus menunjukkan tren penurunan signifikan, dari 22,8 persen menjadi di bawah 20 persen, bahkan mendekati target nasional 17 persen.

“Alhamdulillah sekarang sudah di kisaran 18 persen, bahkan berpotensi turun ke 17 atau 15 persen. Ini sejalan dengan target nasional,” katanya.

Mulai 2026, PKK dan Posyandu akan memperkuat pendekatan door to door. Kader akan mendatangi langsung rumah-rumah warga yang terdata rawan stunting dengan membawa makanan bergizi, tenaga kesehatan, serta edukasi gizi dan pola hidup sehat.

“Kami jemput bola. Data keluarga rawan sudah ada. Kader akan datang langsung membawa makanan bergizi, bidan atau dokter sesuai kebutuhan,” jelasnya.

Saat ini, wilayah dengan tingkat kerawanan stunting tertinggi berada di Balikpapan Barat, terutama kawasan dengan dominasi warga pendatang dan keluarga tanpa pekerjaan tetap.

“Tekanan ekonomi dan sosial pada keluarga pendatang menjadi faktor utama munculnya stunting,” tambahnya.

Selain intervensi gizi, peningkatan literasi keluarga juga menjadi fokus perhatian, mengingat rendahnya budaya membaca berdampak pada pemahaman pola asuh dan hidup sehat.

Dengan keterlibatan langsung OPD dalam struktur PKK dan Posyandu, percepatan penurunan stunting dan peningkatan kualitas keluarga diharapkan dapat berjalan lebih optimal.

“Sekarang semua bergerak seiring. Dengan OPD terlibat langsung, program jadi lebih cepat, lebih kuat, dan lebih tepat sasaran,” tutup Nurlena.

Ke depan, PKK juga mendorong kolaborasi dengan OPD, komunitas, dan sekolah untuk menghadirkan program kepemudaan, olahraga, literasi, serta pengembangan kreativitas sebagai benteng sosial menghadapi pertumbuhan dan tantangan Kota Balikpapan yang terus berkembang.(Kaltim Live)

 

TAG:

TRENDING

Pilihan Editor

Berita Lainnya