Kaltim Live! Balikpapan – Perumda Tirta Manuntung Balikpapan memastikan pasokan air bersih selama Ramadan 2026 dalam kondisi aman, meski terjadi lonjakan penggunaan pada jam-jam tertentu. Kepastian ini menjadi sinyal positif bagi stabilitas layanan dasar di tengah meningkatnya aktivitas masyarakat pada bulan suci.
Direktur Utama PTMB, Yudhi Saharuddin, menjelaskan bahwa pola konsumsi air selama Ramadan berbeda dibandingkan hari biasa. Perubahan ritme aktivitas warga berdampak langsung pada distribusi dan beban produksi.
“Selama Ramadan itu jam puncaknya berubah. Hampir malam sampai subuh terjadi peningkatan penggunaan air,” ujarnya, Rabu (25/2/2026).
Menurut Yudhi, lonjakan pemakaian air pada Ramadan dapat mencapai 10 hingga 20 persen. Peningkatan ini terjadi karena aktivitas ibadah dan persiapan sahur berlangsung hampir bersamaan dalam rentang waktu yang relatif singkat.
“Puncaknya biasanya malam sampai subuh, karena ibadah dan sahur dalam waktu yang bersamaan,” katanya.
Dalam perspektif ekonomi layanan publik, lonjakan permintaan musiman seperti ini menjadi tantangan tersendiri bagi perusahaan daerah. Pengelolaan kapasitas produksi dan distribusi harus dilakukan secara presisi agar tidak mengganggu kontinuitas suplai.
Untuk menjaga keseimbangan antara permintaan dan pasokan, PTMB tetap memaksimalkan produksi air hingga siang hari. Strategi ini dilakukan agar masyarakat memiliki kesempatan menampung air sebelum memasuki jam puncak malam.
“Saat ini sampai siang kita tetap produksi supaya masyarakat bisa menampung air,” tegas Yudhi.
Langkah ini dinilai penting untuk menjaga ketahanan layanan, sekaligus mengurangi tekanan pada jaringan distribusi saat beban konsumsi meningkat tajam.
Yudhi juga mengingatkan potensi perubahan warna air saat terjadi pekerjaan perbaikan jaringan. Kondisi tersebut, menurutnya, bisa terjadi akibat sumbatan dalam pipa yang terdorong aliran air.
“Mungkin ada sumbatan yang ikut masuk ke dalam pipa sehingga airnya berubah warna. Kalau ada keluhan, segera sampaikan. Kami akan tangani secepat mungkin,” jelasnya.
PTMB membuka jalur komunikasi aktif dengan pelanggan untuk mempercepat identifikasi wilayah terdampak apabila terjadi gangguan distribusi. “Kami identifikasi cepat daerah mana yang terkena dampak, lalu kami urutkan untuk dilakukan perbaikan,” ujarnya.
Respons cepat terhadap gangguan menjadi bagian dari upaya menjaga kepercayaan publik terhadap layanan air bersih sebagai kebutuhan dasar yang berdampak langsung pada aktivitas rumah tangga dan produktivitas ekonomi.
Di sisi lain, manajemen PTMB mengimbau masyarakat untuk memanfaatkan jam penggunaan rendah sebagai langkah mitigasi mandiri. Penampungan air pada siang atau sore hari dinilai efektif untuk mengantisipasi lonjakan kebutuhan saat sahur.
“Saya menghimbau masyarakat tetap menampung air di jam-jam yang tidak terlalu banyak penggunanya, supaya saat jam puncak sudah ada persiapan,” katanya.
Dengan kombinasi strategi produksi optimal dan partisipasi masyarakat, PTMB optimistis distribusi air selama Ramadan dapat berjalan lancar tanpa gangguan signifikan. “Semoga aman,” tutup Yudhi.
Keandalan pasokan air selama Ramadan menjadi indikator penting stabilitas layanan publik di Balikpapan, terutama di tengah meningkatnya kebutuhan konsumsi rumah tangga dan aktivitas sosial keagamaan.(Kaltim Live)