Tarif Transportasi Jadi Penyebab Pariwisata di Berau Belum Meningkat

pariwisata_di_berau
Wisatawan menaiki speedboat dari Kampung Tanjung, Kecamatan Pulau Derawan, Kabupaten Berau. (Dok)

Kaltim Live! Berau – Sektor pariwisata di Berau, diharapkan mampu meningkatkan perekonomian daerah. Di sisi lain, tingginya angka transportasi menuju destinasi wisata di Bumi Batiwakkal, masih menjadi penghalang untuk meningkatkan kedatangan wisatawan di sana.

Anggota Komisi III DPRD Berau, Saga menilai pemerintah daerah masih memiliki pekerjaan rumah di sektor pariwisata. Terutama, memikirkan cara untuk menekan tarif transportasi, agar lebih ramah bagi kantong para pelancong.

Saga menuturkan, mahalnya biaya transportasi menjadi parameter lambannya pengembangan sektor pariwisata. Kondisi itu membuat wisatawan lokal maupun domestik, tidak tertarik berlibur ke Berau.

“Mahalnya ongkos membuat wisatawan berpikir berkali-kali untuk berlibur ke sini,” sebutnya.

Padahal, dengan kedatangan wisatawan dalam negeri maupun asing, berdampak pada perputaran uang di Bumi Batiwakkal.

Baca berita Kaltim Live! Pastikan Kualitas Pertanian di Berau Meningkat

Saga yang merupakan Anggota Legislatif dari daerah pemilihan sekitar Kepulauan Derawan menjelaskan, infrastruktur transportasi laut sebenarnya sudah sangat baik. Seperti dermaga di Pulau Derawan dan Maratua, sudah tersedia dengan baik.

Namun, aksesibilitas maupun biaya transportasi masih kalah saing dengan daerah lain.

“Begitu juga naik pesawat, tiket masih mahal. Habis itu naik darat dan laut. Belum sampai wisata mereka sudah mengeluarkan biaya banyak hanya untuk transportasi,” bebernya.

Saga merasa iri dengan manajemen kepariwisataan di Kota Tarakan, Kalimantan Utara. Selain diuntungkan dengan biaya transportasi murah, para pegiat wisata mampu menghipnotis dengan pilihan paket tour wisata yang lebih terjangkau.

“Kita yang punya wisata, tapi mereka yang lebih merasakan benefitnya,” tuturnya.

Oleh karena itu, Pemkab Berau diminta untuk mencari solusi untuk menuntaskan persoalan tersebut. Apalagi, sektor pariwisata tengah disiapkan menjadi alternatif pendapatan daerah pengganti sektor pertambangan dan melepas ketergantungan dari dana transfer ke daerah (TKD).

“Kalau persoalan ini tidak dibenahi, sulit bagi kita untuk menjadikan pariwisata sebagai lokomotif ekonomi kreatif,” tutupnya. (Adv)

 

 

 

 

TAG:

TRENDING

Pilihan Editor

Berita Lainnya