Kaltim Live! Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali tertekan pada awal perdagangan Senin (2/2/2026), seiring memburuknya sentimen global dan domestik yang membuat pelaku pasar cenderung mengambil sikap hati-hati.
Tekanan pada saham-saham tambang dan emas, ditambah meningkatnya ketidakpastian kebijakan global serta isu struktural pasar domestik, mendorong indeks melemah. Nyaris seluruh saham emas di Bursa Efek Indonesia (BEI) terkoreksi mendekati level penurunan dua digit pada awal perdagangan, menjadi penekan utama laju IHSG.
Secara keseluruhan, pergerakan saham cenderung mixed. Tercatat 265 saham menguat, 123 saham melemah, dan 276 saham stagnan. Nilai transaksi pagi ini mencapai Rp632 miliar dengan volume 624 juta saham yang diperdagangkan dalam 71.806 kali transaksi. Kapitalisasi pasar pun menyusut menjadi Rp15.027 triliun.
Pasar keuangan Indonesia diperkirakan masih bergerak volatil pada pekan pertama Februari 2026. Tekanan datang dari kombinasi faktor eksternal dan domestik yang berlangsung bersamaan, mulai dari kembali mencuatnya isu partial shutdown pemerintah Amerika Serikat hingga dinamika internal pasar keuangan nasional. Kondisi ini membuat pergerakan IHSG dan nilai tukar rupiah masih rentan diguncang sentimen jangka pendek.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) David Kurniawan menilai pelemahan pasar kali ini dipicu oleh tekanan sentimen global dan domestik yang datang berbarengan. Dari sisi global, pasar masih dibayangi ketidakpastian terkait isu “Greenland Trade War”, menyusul pernyataan bernuansa tarif dari mantan Presiden AS Donald Trump terkait Greenland.
“Jika Uni Eropa merespons dengan pernyataan resmi untuk membalas kebijakan tersebut, pasar berpotensi melihat penguatan mata uang safe haven seperti Swiss Franc dan Yen Jepang, disertai volatilitas tinggi pada saham-saham eksportir global,” ujar David.
Dari dalam negeri, tekanan datang dari sentimen MSCI effect. MSCI secara resmi mengumumkan Interim Freeze yang berlaku segera. Jika hingga Mei 2026 tidak terdapat perbaikan signifikan dalam aspek transparansi, MSCI berpotensi mengurangi bobot seluruh saham Indonesia, bahkan menurunkan status Indonesia dari Emerging Market menjadi Frontier Market.
Ancaman tersebut memicu gejolak di pasar domestik, tercermin dari dinamika pengunduran diri serta penunjukan jajaran pimpinan baru di Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam rentang waktu yang relatif singkat.
Meski demikian, David optimistis kepemimpinan baru di BEI dan OJK dapat menjadi langkah strategis jangka menengah. “Dengan rekam jejak profesional yang solid dan pengalaman komprehensif di sektor jasa keuangan, kepemimpinan baru ini diharapkan mampu menciptakan sinergi kuat untuk mendorong pertumbuhan, transparansi, dan daya saing pasar modal Indonesia,” ujarnya.
Untuk periode perdagangan 2–5 Februari 2026, IPOT mengimbau pelaku pasar mencermati rilis data pertumbuhan ekonomi (GDP) Indonesia tahun penuh 2025. Awal Februari secara historis menjadi waktu rilis data tersebut, dengan ekspektasi pasar pada kisaran 5,1%–5,2%.
“Jika realisasi GDP berada di atas ekspektasi, ini bisa menjadi katalis tambahan bagi IHSG, bukan hanya menembus level 9.000, tetapi menjadikannya sebagai support baru yang kuat,” kata David.
Selain data makro, respons pasar terhadap estafet kepemimpinan baru di BEI dan OJK juga diperkirakan akan mewarnai pergerakan indeks sepanjang pekan.
Merespons dinamika pasar yang masih fluktuatif, IPOT—yang kini bertransformasi menjadi Wealth Creation Platform—merekomendasikan strategi selektif dengan fokus pada saham-saham bertren naik (uptrend) serta pemanfaatan instrumen Booster Modal dan Power Fund Series (PFS). Strategi ini didukung fitur Multi-Account untuk memisahkan tujuan investasi serta Shared Access bagi kolaborasi keluarga dan komunitas investor.
Adapun rekomendasi teknikal IPOT meliputi:
- WIIM dengan potensi breakout resistance 1.870.
- JPFA, yang dinilai menarik seiring prospek sektor poultry pada 2026.
- ULTJ, yang berpeluang breakout dari fase konsolidasi dan relatif aman dari sentimen MSCI.
- Premier ETF Indonesia Consumer (XIIC), didukung fundamental emiten konsumer yang solid.
Dari sisi global, keputusan Federal Open Market Committee (FOMC) pada 29 Januari 2026 yang menahan suku bunga di kisaran 3,50–3,75% turut menjadi penopang sentimen. Sikap wait-and-see The Fed, setelah tiga kali pemangkasan suku bunga sepanjang 2025, mencerminkan keyakinan terhadap ketahanan ekonomi AS, meski tekanan inflasi masih menjadi perhatian.
Dengan kombinasi sentimen global dan domestik tersebut, pelaku pasar diimbau tetap waspada, disiplin mengelola risiko, dan selektif dalam memilih instrumen investasi di tengah fase volatilitas yang masih membayangi pasar.(Kaltim Live)