Pasar Saham Dibuka Memerah di Tengah Susulan Demonstrasi

Pasar_Saham_Indonesia
Perdagangan bursa saham anjlok dengan kondisi turun 2,69% atau turun 210,39 poin ke 7.620,10 pada Senin (1/9/2025). (Antara Foto)

Kaltim Live! Jakarta – Pascademonstrasi di Jakarta pada 29-30 Agustus 2025, pasar saham Indonesia, dibuka dengan kondisi jatuh 2,69% atau turun 210,39 poin ke 7.620,10 pada pembukaan perdagangan Senin (1/9/2025).

Selang beberapa menit setelah pembukaan IHSG terkoreksi semakin dalam atau anjlok hingga 3,51%. Nilai transaksi saham pagi ini tercatat mencapai Rp970,79 miliar yang melibatkan 954 juta saham dalam 76.012 kali transaksi.

Seluruh saham bergerak di zona merah dengan hanya sebanyak 12 saham menguat, 580 melemah dan 44 lainnya tidak bergerak atau stagnan.

Baca berita Kaltim Live! IHSG dan Rupiah Tertekan Akibat Gelombang Demo

Bursa Efek Indonesia (BEI) mengundang para jurnalis untuk bertemu dengan manajemen BEI di tengah aksi demonstrasi. BEI menegaskan perdagangan bursa tetap dibuka dan berjalan seperti biasa.

Agenda ini rencananya juga menghadirkan Menteri Koordinator bidang Perekonomian, perwakilan Bank Indonesia, dan perwakilan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Indonesia bersiap menghadapi dampak buruk dari aksi demonstrasi hingga penjarahan yang berlangsung pekan lalu. Kekhawatiran juga membayangi perdagangan hari ini di tengah seruan aksi demi kembali pada 1-5 September 2025.

Eskalasi demonstrasi yang terjadi pekan lulu, cukup tinggi dibandingkan demo-demo yang terjadi sepanjang tahun ini. Meskipun hari ini terdapat data-data ekonomi, sentimen demo lebih memiliki dampak besar terhadap pergerakan negatif pasar keuangan hari ini.

Kekhawatiran mengenai aksi yang lebih buruk lagi dalam demo lanjutan pekan ini mulai dari 1 hingga 5 September 2025, dapat mendorong larinya aliran dana asing terutama di pasar saham.

Aksi unjuk rasa serentak dijadwalkan sejumlah elemen masyarakat dari berbagai daerah di Indonesia pada Senin 1 September 2025.

Baca berita Kaltim Live! RDMP Pertamina Balikpapan Jadi Lokomotif Penerimaan Pajak Daerah

Selain demo, terdapat rilis data ekonomi pada Senin (1/9/2025) yang akan menentukan arah bursa saham hingga rupiah, salah satunya Indeks Manufaktur PMI Indonesia.

S&P Global akan merilis Data Purchasing Managers’ Index (PMI) periode Agustus 2025. Sebelumnya, aktivitas manufaktur Indonesia masih terkontraksi pada Juli 2025. Artinya PMI sudah terkontraksi selama empat bulan beruntun.

Sebelumnya, PMI sudah terkontraksi sebesar 46,7 di April, kemudian 47,4 di Mei, berlanjut di Juni (46,9), dan Juli (49,2).

PMI menggunakan angka 50 sebagai titik mula. Jika di atas 50, maka artinya dunia usaha sedang dalam fase ekspansi. Sementara di bawah itu artinya kontraksi. (Kaltim Live)

 

 

TAG:

TRENDING

Pilihan Editor

Berita Lainnya